Kisah Abu al-Tayib Penyair Terkemuka yang Mengaku Nabi dan Kemudian Bertobat

"Abu al-Tayib atau al-Muttanabi adalah seorang penyair terkemuka yang mengaku nabi yang kemudian bertobat, ini kisahnya."

Life | 30 January 2023, 15:02
Kisah Abu al-Tayib Penyair Terkemuka yang Mengaku Nabi dan Kemudian Bertobat

Abu al Tayib Ahmad ibn Hussayn (915-(965) merupakan seorang penyair terkemuka yang lahir pada tahun 915 M Kindah, kota Kufah, Iraq. Asal Abu al-Tayib ini bukanlah dari keluarga yang kaya raya, melaikan dari keluarga sederhana. Meski demikian, keluarganya sangat mencintai ilmu, khususnya syair dan sastra. Pada perkembanganya, syair-syair Abu al-Tayib ini sangat indah, sehingga memberikan berpengaruh pada masa itu di daerah Arab dan sekitarnya. 

Kecerdasan dan kepiawaianya dalam dunia sastra dan membuat syair-syair membuat Abu al-Tayib mendapatkan pendidikanya secara mudah dan cuma-cuma.

Pengakuan al-Muttanabi dari Syairnya

Pada masa kecilnya, muncul orang-orang Qarmati, yaitu sebuah aliran yang menggabungkan Zoroastrianisme dan Islam di Timur Tengah, dan diusia remaja itu kemudian ia bergabung dengan aliran tersebut. Tidak hanya itu, karena ketika remaja Abu al-Tayib telah menunjukkan bakatnya dengan membuat syair-syair yang indah, itu yang kemudian membuatnya juga mendapatkan pendidikan secara gratis.
Daun.id

istimewa

Terdapat beberapa versi terkait munculnya julukan al-Mutanabbi kepada Abu al-Tayib ini. Salah satu versinya adalah sebagai berikut; penjulukan Abu al-Tayib dengan gelar al-Mutanabbi yaitu sebab kehebatan syair-syairnya yang begitu indah dan menakjubkan, sehingga orang-orang menganggapnya bagai wahyu yang diturunkan kepada seorang nabi. 

Dari diwan-diwan yang ditulis oleh Abu al-Tayib, tidak ada satupun syair yang secara khusus berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Terdapat suatu alasan mengapa Abu al-Tayib melakukan itu. Pada suatu ketika pernah Abu al-Tayib ditanya oleh seseorang mengenai kenapa dirinya tidak pernah membuat syair yang memuji Nabi, kalu Abu al-Tayib pun menjawab:

وتركـــت مدحي للوصـــي تعمداً # إذ كــان نوراً مســتطيلاً شامـلاً

وإذا استقل الشيء قام بذاته # وصفات ضوء الشمس تذهب باطلا

Artinya;
Aku sengaja tidak memuji dirinya, sebab dirinya saja sudah berupa cahaya yang terpancar secara sempurna

Jika suatu hal tidak terikat apapun maka dia akan eksis dengan sendirinya, begitu pula dengan sifat cahaya matahari yang menerangi kebathilan

Jawaban tersebut bisa dikatakan sebagai sebuah afirmasi atau pengiyaan dari Abu al-Tayin kenapa dirinya tidak pernah membuat satupun syair khusus yang berisikan pujian kepada sang Nabi. Apabila ditinjau dari segi ilmu badi’ dalam balaghoh, ungkapan di atas mengandung unsur tauriyah sekaligus muqobalah. 

Tauriyah sebab makna dekatnya atau tersuratnya memang sedang tidak memuji Nabi dengan redaksi وتركـــت مدحي, namun makna jauhnya atau tersiratnya sesungguhnya dirinya saat itu pula sedang memuji Nabi. Karena dengan pengakuannya yang tidak mampu untuk memberi pujian itu disebabkan saking mulianya hingga tidak adanya lagi kata pujian yang pantas diberikan kepadanya. 

Muqobalah sebab di awal menyebutkan tidak memuji nabi, namun bait-bait selanjutnya justru berisikan pujian kepada nabi. Yang mana dia menyebutkan bahwa nabi adalah cahaya yang purna tiada lagi ada yang menandingi.

Versi Lain Asal Julukan al-Muttanabi

Kisah Abu al-Tayib mengaku sebagai nabi adalah pada usia 17 tahun, ketika ia memimpin pemberontakan Qarmati di Suriah. Pemberontakan itu berhasil dihentikan dan para pemimpin remajanya ditangkap dan dipenjarakan termasuk Abu al-Tayib. Klaim sebagai Nabi yang dulu pernah ia lakukan, memberinya julukan yang mengejek, yaitu al-Mutanabbi, atau "calon nabi", yang dengan namanya itu dia dikenal dalam sejarah.

Setelah bebas pada tahun 935 M, ia menjadi penyair pengembara. Ia mengembara dan berkeliling istana di wilayah tersebut dan membuat puisi untuk memuji penguasa dengan imbalan perlindungan. Dalam sejarahnya, puisi yang memuji penguasa dengan imbalan patronase memiliki kisah panjang di berbagai budaya. Dari Sumeria kuno sampai Yunani kuno dan Persia, dan di antara Anglo Saxon, Arab, Viking dan lainnya. 

(m. taufik naufal/nf)


Rekomendasi untuk Anda

Berita Terbaru

JADWAL SHOLAT HARI INI

RABU, 19 JUNI 2024 (JAKARTA PUSAT)
IMSYAK 04:29 SUBUH 04:39 DUHA 06:23 ZUHUR 11:56
ASHAR 15:18 MAGHRIB 17:49 ISYA 19:04  

Zodiak Gemini Hari Ini

Percintaan

Dalam hal percintaan, bulan Juni 2024 akan menjadi periode yang menarik bagi kamu sebagai seorang Gemini. Kamu mungkin akan bertemu seseorang yang menarik dan menarik perhatianmu. Namun, penting untuk tetap berhati-hati dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan terkait hubungan asmara.



Gemini Selengkapnya