Kisah Unik KH. Abdul Karim Lirboyo, Pernah Jadi Tukang Panggul Santri Barunya

"Ulama satu ini dikenal begitu alim dan tawaduk"

Life | 21 January 2023, 12:18
Kisah Unik KH. Abdul Karim Lirboyo, Pernah Jadi Tukang Panggul Santri Barunya

Daun.id - KH. Abdul Karim atau yang karib disapa Mbah Manab, adalah tokoh penting pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. KH. Abdul Karim lahir tahun 1856 M di desa Diyangan, Kawedanan, Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, dari pasangan Kiai Abdur Rahim dan Nyai Salamah.

Manab adalah nama kecil beliau dan merupakan putra ketiga dari empat bersaudara. Saat usia 14 tahun, mulailah beliau melanglang buana dalam menimba ilmu agama dan saat itu beliau berangkat bersama sang kakak (Kiai Aliman).

Pesantren pertama yang beliau singgahi terletak di desa Babadan, Gurah, Kediri. Kemudian beliau meneruskan pengembaraan ke daerah Cepoko, 20 km arah selatan Nganjuk, di sini kurang lebih selama 6 Tahun.

Setalah dirasa cukup beliau meneruskan ke Pesantren Trayang, Bangsri, Kertosono, Nganjuk Jatim, disinilah beliau memperdalam pengkajian ilmu Al-Quran. Lalu beliau melanjutkan pengembaraan ke Pesantren Sono, sebelah timur Sidoarjo, sebuah pesantren yang terkenal dengan ilmu Shorof-nya, 7 tahun lamanya beliau menuntut ilmu di Pesantren ini.

Selanjutnya beliau nyantri di Pondok Pesantren Kedungdoro, Sepanjang, Surabaya. Hingga akhirnya, beliau kemudian meneruskan pengembaraan ilmu di salah satu pesantren besar di pulau Madura, asuhan ulama’ kharismatik; Syaikhona Kholil Bangkalan. Cukup lama beliau menuntut ilmu di Madura, sekitar 23 tahun.

1. Mendirikan Pondok Pesantren Lirboyo

Pondok Pesantren Lirboyo Kediri didirikan oleh Mbah Manab pada tahun 1910. Seperti kita ketahui bersama, sampai saat ini pesantren itu menjadi salah satu pesantren yang cukup terkenal dengan jumlah santri yang begitu banyak.

Daun.id

Youtube Biografi Ulama NU

Dan ada sebuah kisah menarik yang selama ini jarang terungkap, yakni kisah Mbah Manab yang menjadi tukang panggul santri barunya. Cerita ini dikisahkan oleh KH. Ahmadi Ngadiluweh dan almagfurlah KH. A Idris Marzuki dalam buku "Sejarah Pesantren Lirboyo".

2. Bantu Santri Baru Mengangkat Barang

Pada suatu hari (diperkirakan tahun 1920-an) datanglah seorang pemuda yang baru turun dari dokar di dekat area pondok. Dia membawa perbekalan lumayan banyak dari rumah, sehingga merasa berat untuk dibawanya sendiri. Kemudian pemuda calon santri baru itu melihat ada orang tua yang sedang berkebun. Versi lain mengatakan sedang memperbaiki pagar tembok. Melihat didekatnya ada orang tua, pemuda itu bertanya dengan bahasa Jawa halus: 
 
"Pak, anu, kulo saumpomo nyuwun tulong kaleh njenengan, nopo nggeh purun? (Begini, Pak, seumpama saya minta tolong anda, apa berkenan)?” Tanya pemuda itu.

"Nggeh, nopo!" Jawab orang tua di kebun itu.

"Niki kulo mbeto kelopo, beto beras, kulo bade mondok teng kilen niko. Tulong jenengan beta'aken (Ini saya membawa kelapa dan beras. Saya mau mondok di barat itu. Tolong anda bawakan),” pinta pemuda tersebut.

Daun.id

Youtube Biografi Ulama NU

"Oh, nggeh mas, kulo purun (Ya mas, saya mau),” balas orang tua. Lalu dengan senang hati orang tua itu membantu membawakan bekal berupa beras dan kelapa milik pemuda tadi sampai di kompleks kamar santri.

Para santri lama yang menyaksikan peristiwa itu terheran-heran: kiainya mengangkatkan barang milik calon santri barunya.

3. Kesederhanaan dan Tawaduk KH. Abdul Karim Patut Jadi Teladan

Akhirnya betapa malunya pemuda santri baru tersebut setelah mengetahui ternyata orang yang kemarin dia perintah membantu membawakan barang perbekalannya itulah yang menjadi imam shalat di masjid. Ternyata orang yang mengimami shalat tersebut adalah kiai pengasuh pesantren. Karena kesederhanaan penampilannya, sang pengasuh pesantren disangka orang desa atau petani kampung yang sedang bekerja.

Daun.id

nu.online

Orang yang membantu mengangkatkan barang pemuda calon santri di atas adalah KH. Abdul Karim, pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur. (M Haromain)  

(abdul mufid/nf)


Artikel Pilihan

JADWAL SHOLAT HARI INI

SELASA, 31 JANUARI 2023 (JAKARTA PUSAT)
IMSYAK 04:25 SUBUH 04:35 DUHA 06:17 ZUHUR 12:08
ASHAR 15:29 MAGHRIB 18:19 ISYA 19:32  

Daun Media Network