Pengertian One Love, Sejarahnya, dan Alasan Jadi Masalah di Piala Dunia 2022

"Ada pergeseran makna sejak One Love diperkenalkan."

Sports | 26 November 2022, 16:00
Pengertian One Love, Sejarahnya, dan Alasan Jadi Masalah di Piala Dunia 2022

Daun.id - Piala Dunia 2022 akan dicatat dalam sejarah sebagai ajang FIFA yang paling kontroversial. Dimulai penunjukkan Qatar yang berbau suap, berlanjut ke proyek pembangunan stadion yang tidak manusiawi kepada pekerja migran, dan diakhiri ban kapten One Love. Apa itu One Love?

Awalnya, sembilan negara Eropa dan beberapa lainnya dari Amerika mendesak perlunya FIFA membuka opsi untuk menampilkan simbol-simbol tersebut selama turnamen. Tapi, ditolak FIFA karena bertentangan dengan aturan dan perundang-undangan yang ada di Qatar.

Tidak hanya melarang, FIFA dengan tegas mengancam pemain yang menggunakan ban kapten pelangi dengan kartu kuning.

Selain alasan hukum di Qatar, FIFA juga menyebut memiliki program kampanye sendiri. Tiap kapten tim akan mengenakan ban kapten yang telah disediakan FIFA. Ban-ban kapten itu memiliki berbagai pesan sosial dan kemanusiaan. Sebut saja #NoDiscrimination, #SaveThePlanet, #ProtectChildren, #EducationForAll, #BeActive.

Lalu, apa itu gerakan One Love? Ini adalah gerakan atau kampanye yang sebenarnya didukung FIFA dan PBB. Ini merupakan aksi untuk mendukung pluralisme, kersetaraan gender, humanisme, bumi hijau, dan semua yang berkaitan dengan HAM. Termasuk pengakuan kepada kaum LGBT.

Di Eropa, Amerika, dan Australia, pengakuan terhadap gerakan ini umum dan normal. Di sana ada banyak aktivitas yang mendukung kampanye kesetaraan seperti Pride Parade. Di beberapa negara, hak untuk berhubungan sejenis sudah diakui dan diatur dalam undang-undang.

Sayangnya, apa yang terjadi di "Barat" belum bisa diterima di "Timur". Banyak tempat di Asia masih yang masih abu-abu. Maksudnya, tidak mendukung, tapi juga tidak menolak.

Di kawasan ini juga ada beberapa negara yang secara jelas melarang. Bahkan, memasukkan dalam aturan resmi sehingga orang yang melanggar bisa mendapatkan hukuman penjara. Salah satu contohnya ada di Qatar. Dan, bagi Barat, apa yang dilakukan Qatar bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, kebebasan dan HAM, yang mereka junjung tinggi.

Masalah ini semakin rumit karena penunjukkan Qatar sejak awal memang kontroversial. Itu dibuktikan dengan banyaknya pejabat FIFA, termasuk mantan presiden, Sepp Blatter, dan legenda Prancis, Michel Platini, yang harus berurusan dengan pengadilan kasus suap.

Sejarah dan asal mula gerakan One Love

Jauh sebelum digunakan untuk simbol LGBT, One Love sebenarnya berasal dari Jamaika. Ini adalah adalah ekspresi persatuan dan inklusi. Ini sering digunakan oleh Rastafarian dan para musisi reggae.

Aktivis hak-hak sipil kulit hitam kelahiran Jamaika pada awal abad 19, Marcus Garvey, menjadi yang pertama mempopulerkannya. Istilah One Love muncul ketika Marcus Garvey mengakhiri pidatonya. "Cari aku di angin puyuh. Satu Tuhan! Satu Tujuan! Satu Takdir! (One God! One Aim! One Destiny!)" kata Marcus Garvey dalam sebuah pidato pada 1924. 

Dari sinilah, One Love berkembang. Kemudian, muncul gerakan Rastafarian di Jamaika, yang didirikan untuk memuja Marcus Garvey. Mereka mengadopsi "Satu Tuhan! Satu Tujuan! Satu Takdir!" sebagai moto menjadi "One Love, One Heart, One Destiny" (Satu Cinta, Satu Hati, Satu Takdir).

One Love semakin terkenal pada 1965. Ketika itu, grup musik reggae, The Wailers, merilis sebuah lagu legendaris berjudul "One Love". Dalam lirik lagu itu terdapat kata-kata: "one love, one heart, let's get together, and feel okay".

Lagu populer itu kemudian dirilis ulang pada 1977 oleh sang legenda musik reggae, Bob Marley. Selanjutnya, menyebar ke seluruh penjuru bumi, dan bertahan hingga detik ini.

Bagi Marcus Garvey, "One Love" adalah gerakan satu cinta untuk solidaritas orang-orang kulit hitam di seluruh dunia. Dia ingin menyatukan keturunan Afrika yang tertindas selama berabad-abad di banyak negara Amerika dan Eropa.

Sebaliknya, oleh Bob Marley, "One Love" diterjemahkan sebagai harmoni antara orang-orang dari ras yang berbeda. Visi multirasial alas Bob Marley kemudian ditafsirkan sebagai visi harmoni antarbangsa, tidak peduli kulit putih, kulit hitam, atau keturunan Asia.

Dan, seiring perkembangan zaman, makna "One Love" terus bergeser. Dari solidaritas keturunan Afrika, harmoni ras yang berbeda, hingga sekarang menjadi gerakan LGBT.

Kaum LGBT mengambil One Love dengan dasar pemikiran bahwa cinta itu bukan hanya dengan lawan lain jenis (pria-wanita), melainkan juga sesama jenis (pria-pria, wanita-wanita). Bagi mereka, adalah hak setiap orang untuk memiliki hubungan dengan siapa pun atas dasar cinta. 

Gerakan ini diterima luas di Eropa, Amerika, dan Australia. Sebaliknya, sensitif di beberapa negara Asia dan Afrika. 

(andri ananto/anda)


Artikel Pilihan

JADWAL SHOLAT HARI INI

SELASA, 31 JANUARI 2023 (JAKARTA PUSAT)
IMSYAK 04:25 SUBUH 04:35 DUHA 06:17 ZUHUR 12:08
ASHAR 15:29 MAGHRIB 18:19 ISYA 19:32  

Daun Media Network