Kisah Al Farabi Filosof Besar Islam, Kuasai 70 Bahasa dan Dikagumi Ibnu Sina

"Al Farabi adalah tokoh filosof besar yang dikagumi dunia. Ia disebut sebagai guru kedua setelah Aristoteles."

Life | 20 January 2023, 16:34
Kisah Al Farabi Filosof Besar Islam, Kuasai 70 Bahasa dan Dikagumi Ibnu Sina

Daun.id - Al Farabi atau Abu Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Farabi adalah ilmuwan dan filosof Islam yang berasal dari daerah Farab, Kazakhstan. Ayahnya adalah seorang opsir tentara Turki keturunan Persia, sedangkan ibunya berasal Turki. Ia juga dikenal dengan nama lain sebagai Abu Nasir al-Farabi, dan dalam beberapa sumber lain ia dikenal dengan Abu Nasr Muhammad Ibn Muhammad Ibn Tarkhan Ibn Uzalah Al- Farabi. Di dunia barat sebagai Alpharabius, Al-Farabi, Farabi, dan Abunasir.

Sejak usia belia Al Farabi diceritakan telah memiliki kecerdasan yang istimewa karena dengan cepat menguasai hampir setiap yang dipelajarinya. Pada awal pendidikannya ini, Al-Farabi belajar al-Qur’an, tata bahasa, kesusasteraan, ilmu-ilmu agama (fiqh, tafsir dan ilmu hadits) dan aritmatika dasar. Al-Farabi muda belajar ilmu-ilmu islam dan musik di Bukhara, dan tinggal di Kazakhstan sampai umur 50.
Daun.id

istimewa

Pendidikan Al Farabi

Al-Farabi mulai mendalami ilmu pengetahuan seperti ilmu kebahasaan, filsafat, hingga logika saat ia melakukan perjalanan ke Kota Baghdad pada tahun 922 M. Ketika itu Baghdad memang dikenal sebagai kota yang maju akan ilmu pengetahuan. Ia pun belajar di kota tersebut selama 10 tahun lamanya.

Bersama Ibnu Suraj Al Farabi mempelajari tata bahasa Arab. Sementara untuk filsafat dan logika, Al-Farabi belajar di bawah bimbingan Abu Bisyr Mattius Ibn Yunus. Ia juga pernah belajar dengan tokoh filsuf aliran Alexandria, Yuhana Ibn Hailan. Bersama gurunya itu ia pergi ke Konstantinopel dan menetap di sana selama 8 tahun untuk mendalami filsafat.

Ketika dewasa, Al-Farabi pindah ke Damaskus dan bertemu dengan seorang bangsawan Damaskus, Saif Al-Daulah Hamdani. Ia pun mendapatkan kepercayaan untuk menjadi ulama dan ilmuwan di istana. Namun meski sepanjang hidupnya berada di kehidupan mewah istana, dan diberikan imbalan yang besar oleh sang sultan, namun Al-Farabi tetap konsisten menjalani hidup sederhana dan tidak tertarik dengan kemewahan. Menurut banyak sumber, Al-Farabi menguasai 70 macam bahasa dunia.

Karya-Karya Al Farabi

Al Farabi merupakan Filosof besar Muslim yang telah banyak menyusun karya Filsafat. Misalnya adalah bukunya yang memadukan beberapa kejanggalan-kejanggalan, terutama antara Plato dan Aristoteles. Pemikiran ini di tulis dalam buku Al-Jam’u Bayna R’yay al- ahakimayn; Aflaton wa Aristo. Ulasannya yang mendalam terhadap karya Aristoteles menyebabkan ia di gelar sebagai Aristoteles ke dua (Aristo Al-tsaniy). Selain karya di atas, karya penting lainnya ialah:

  • Ara’u Ahl Madinah al-fadhilah, kajian tentang politik.
  • Maqalat fi Ma’ani al-Aql, berisi ulasan tentang Akal
  • Al-Ibanah’An Ghadhi Aristo fi Kitabi Ma Ba’da al-Thabi’ah. Berisikan tentang ulasan mengenai Metafisika Aristoteles.
  • Al-Masa’il al- Falsafiyah wa Ajiwibah’Anha, berisikan tentang kajian Filsafat.
  • Dan Lain-lain.

Kisah Ibnu dan Al Farabi

Selain dikenal sebagai bapak kedokteran modern, Ibnu Sina juga memiliki minat pada bidang filsafat. Ketika muda ia sangat mengidolakan tokoh Al Farabi. Ketika muda, Ibnu Sina pernah bersikeras untuk mencari al-Farabi untuk dijadikan sebagai guru. Namun sayangnya, karena memang pada saat itu al-Farabi telah wafat, Ibnu Sina pun tidak pernah bertemu dengan sosok besar itu. Jika dilihat dari sejarah keduanya sebenarnya tidak pernah saling jumpa. Karena keduanya tidak hidup dalam satu masa. Al-Farabi tercatat wafat tahun 339 H/950 M., sedangkan Ibnu Sina lahir 30 tahun setelahnya pada 370 H/980 M.

Namun karena informasi kewafatan al-Farabi belum sampai kepadanya. Ia hanya dapat mendengar kabar kebesaran ilmu dan pengaruhnya. Karena tidak pernah bertemu, Ibnu Sina pernah mengungkapkan penyesalan terhadap hal itu. Penyesalan itu pernah diabadikan oleh al-Shafadi dalam al-Wafi bi al-Wafiyyat:

“Saya sudah berkeliling mencari keberadaan Syekh Abu Nashr al-Farabi namun tidak pernah kutemukan. Andai saja aku dapat menemuinya, pasti aku akan mendapat banyak sekali faidah”

Meskipun tidak pernah bertemu, namun Ibnu Sina punya keinginan lain untuk tetap mendalami ilmu sebagaimana yang ditekuni oleh al-Farabi, yaitu filsafat. Pernah pada suatu masa, ia ingin mendalami kitab metafisik karangan Aristoteles. Ia kebetulan membaca karya Aristoteles tersebut dalam versi Arabnya berjudul Ma Ba’da al-Thabi’ah atau yang biasa dikenal dengan buku metafisik. Sebagaimana diketahui, diceritakan konon kitab itu adalah buku pertama yang membahas mengenai metafisika. Ibnu Sina tampaknya sangat terobsesi dengan buku induk itu.

Ketika ia membacanya, ia tidak mampu memahami buku itu. Ia membaca buku itu berulang-ulang dan masih belum mampu menemukan inti dari apa yang ia baca. Ia pun mengulangi bacaan kitab tersebut hingga 40 kali namun satu kalimat pun ia masih belum paham. Akhirnya ia pun merasa putus asa.

Ia pun memutuskan untuk istirahan dan menenangkan pikirannya. Setelah menunaikan shalat ashar, Ia pun berjalan menyusuri kota tempat tinggalnya. Menjemput senja. Dalam perjalanan tersebut, tiba-tiba ia bertemu dengan seorang penjual buku yang kelihatan bersemangat menjual bukunya. Entah karena belum ada pelaris atau memang karakternya. Tiba-tiba saja penjual buku tersebut langsung menyodorkan sebuah buku kepada Ibnu Sina, tanpa konfirmasi. Merasa tidak nyaman, Ibnu Sina pun langsung mengembalikan buku tersebut. Ia tidak sedang ingin membeli buku atau kitab, pikirnya.

Tak menyerah, penjual buku tersebut kemudian berkata:

“Tuan, tolong belilah buku ini tuan," pintanya agak merendah.

“Tiga dirham saja, silahkan diambil buku ini.”

Karena merasa kasihan, akhirnya Ibnu Sina membeli buku itu. Setelah dibuka. Tanpa ia sangka buku tersebut merupakan buku karangan Ibnu Nashr Al Farabi atau Al Farabi, sosok yang selama ini ia kagumi dan ia cari. Dan buku adalah penjelasan dan telaah kritis dari buku Metafisik milik Aristoteles. 

Ibnu Sina bergegas pulang ke rumah dan segera membaca semua isi buku tersebut. Akhirnya, Ibnu Sina pun bisa mendapatkan pencerahan atas buku metafisika tersebut. Akhirnya ia bisa mendapatkan pemahaman berkat karya Aritoteles melalui buku milik Al Farabi tersebut.

(m. taufik naufal/nf)


Artikel Pilihan

JADWAL SHOLAT HARI INI

SELASA, 31 JANUARI 2023 (JAKARTA PUSAT)
IMSYAK 04:25 SUBUH 04:35 DUHA 06:17 ZUHUR 12:08
ASHAR 15:29 MAGHRIB 18:19 ISYA 19:32  

Daun Media Network