Kisah Unik KH. Wahab Chasbullah Merekrut Kader NU Melalui Mimipi

"Jasanya dalam dunia pendidikan memang besar"

Life | 21 January 2023, 11:29
Kisah Unik KH. Wahab Chasbullah Merekrut Kader NU Melalui Mimipi

Daun.id - Sebagai salah satu wujud agar ilmu yang didapat saat mondok di pondok pesantren bermanfaat ialah dengan mengajarkannya kepada sesama atau bagi yang memerlukannya. Lebih-lebih, mendirikan yayasan atau lembaga ajar dengan basis islam.

Ya, itulah yang dilakoni oleh Masykur, seorang alumnus pondok pesantren Tebu Ireng Jombang dan Jamsaren Solo. Dia mendirikan madrasah ini di Singosari, Malang, tempat kelahirannya.

Pada masa kolonial, mendirikan madrasah semacam itu buknalah perkara yang muda. Saat itu tahun 1923, mendirikan sebuah madrasah apalagi berbasis islam tentu prosedurnya sangat ribet. Namun ia tak menyerah. Beberapa murid pun telah mendaftar di madrasahnya.

Saat murid semakin banyak, masalah mulai datang. Para sisten wedana kala itu mulai mempersoalkan tentang legalitas madrasah yang ia dirikan beserta materi apa yang diajarkan di sana.

1. Cerita Masykur Bermimpi Bertemu KH. Wahab Chasbullah

Nyaris setiap hari ia dipanggil oleh asisten wedana ditanyai tentang legalitas dan tetek-bengek terkiat madrasah Misbahul Wathan yang ia dirikan. Akhirnya aktivitas mengajarnya pun terganggu. Itu menyebabkan beberapa wali murid menarik anaknya dari sana karena takut berurusan dengan legalitas/hukum. Muridnya pun hanya tinggal beberapa gelintir saja.

Kondisi itu membuat Masykur bersedih, ia pun bermunajat kepada Allah, berdzikir hingga tertidur. Dalam tidur itu ia bermimpi bertemu dengan 2 orang kiai di sebuah kapal besar di tengah lautan, orang itu ialah KH. Hasyim Aysari (gurunya saat mondok di Tebu Ireng), dan satu lagi seorang lelaki yang dalam mimpinya memperkanalkan diri; "nama saya Wahab, lengkapnya Abdul Wahab Chasbullah" sembari menyalami dirinya. Masykur seketika terbangun dari tidur.

Daun.id

Youtube Azkamza Channel

Karena penasaran, keesokan harinya Masykur memutuskan sowan ke kediaman pengasuh Pondok Tebuireng tersebut. Menanyakan makna bahtera besar di tengah samudera dan sosok kiai muda misterius yang menjabat tangannya.

Kiai Hasyim Asy’ari tidak menjelaskan panjang lebar makna mimpi Masykur, melainkan malah menyuruhnya mendatangi Kiai Wahab Chasbullah, yang saat itu tinggal di kediaman mertuanya, Kiai Musa, di daerah Kertopaten, tak jauh dari kawasan Makam Sunan Ampel, Surabaya.

2. Menemui KH. Wahab Chasbullah

Tak berselang lama, Masykur akhirnya sampai di kediaman Mbah Wahab. Dan benar, beliaulah yang ia temui dalam mimpi bersama KH. Hasyim Asyari di sebuah kapal besar itu. Seperti sudah kenal dan sangat akrab, Mbah Wahab kemudian menyalami dan menyambut kedatangan Masykur dengan pelukan hangat.

Masykur pun curhat soal nasib madrasah rintisannya yang diganggu orang-orang dari kawedanan.

“Tenang saja, nanti saya bantu. Sekarang ayo sampeyan saya ajak mampir-mampir.”

“Kemana, kiai?”

“Sudah. Ikut saya saja. Ayo naik…” ajak Kiai Wahab sambil membuka pintu mobilnya.

Kisah ini lebih lanjut ditulis oleh  “K.H. Masykur” karya Soebagijo I.N. Keduanya pun kemudian mampir ke beberapa tempat mengunjungi lembaga pendidikandan.

Daun.id

dok. pribadi dari buku

Di Sekolah Nahdlatul Wathan, Masykur berdiskusi tentang pendidikan dan tantangannya dengan beberapa aktivis, antara lain Kiai Mas Alwi bin Abdul Aziz, yang kelak menjadi pengusul nama “Nahdlatul Ulama”.

Selesai dari madrasah yang didirikan Kiai Wahab bersama KH. Mas Mansoer itu, pada keesokan harinya Masykur diajak berpindah ke sebuah pertemuan: Tashwirul Afkar. Sebuah wadah diskusi kaum santri yang cukup dinamis di zaman itu. Banyak topik didiskusikan di sini oleh para kiai muda yang menjadi anggotanya.

3. KH. Membantu Legalitas Misbahul Wathan

Rasanya, saat itu Masykur memperoleh tenaga yang tak habis. Semangat dan lelincahan Kiai Wahab seolah menulari dirinya. Keesokan paginya, Masykur diminta pulang ke Malang.

Beberapa hari setelah kunjungan Masykur ke Mbah Wahab, suatu pagi Mbah Wahab mendatangi kediaman Masykur dan mengajaknya menuju ke kantor kawedanan.  Kiai Wahab segera mengeluarkan berbagai berkas dari tas kulitnya. Dokumen dan berkas izin pendirian Nahdlatul Wathan di Surabaya sekaligus izin dari pemerintah kolonial perihal status madrasah Misbahul Wathan milik Masykur.

Dalam buku "KH. Abdul Wahab Chasbullah, Hidup dan Perjuangannya" yang ditulis oleh Chiru Anam menyebutkan jika kiprah Mbah Wahab dalam dunia pendidikan sangatlah besar. Termasuk membantu Misbahul wathan milik Masykur.

Daun.id

Youtube Azkamza Channel

“Tuan wedana. Mulai beberapa hari yang lalu, madrasah yang didirikan Kang Masykur sudah lengkap legalitasnya dan secara resmi menjadi bagian dari Nahdlatul Wathan Surabaya. Dengan demikian tidak ada lagi masalah legalitas dan sudah berkekuatan hukum. Demikian yang ingin kami sampaikan.”

Sejak itu, Misbahul Wathan milik Masykur berada di bawah naungan Nahdlatul Wathan di Surabaya yang dikelola Kiai Wahab, Kiai Mas Alwi Abdul Aziz, dan Kiai Abdul Halim.

Proses belajar-mengajar di Misbahul Wathan pun berjalan tiada hambatan. Tak ada lagi gangguan dari orang-orang kawedanan. Sehingga beberapa wali murid kembali memasrahkan anaknya dididik di sini.

4. KH. Wahab Chasbullah Mengajak Masykur Gabung ke PBNU

Setelah NU berdiri pada 1926, Masykur diajak oleh Mbah Wahab untuk terlibat menjadi pengurus di organisasi ini sejak 1928. Saat itu dirinya sering bolak-balik Malang-Surabaya untuk berkantor di PBNU.Pada tahun 1943, Kiai Masykur terlibat dalam kursus ulama yang diinisiasi Jepang.

Di era revolusi fisik, Kiai Masykur menjadi Menteri Agama Indonesia pada tahun 1947-1949 dan 1953-1955. Ia juga pernah menjadi anggota DPR RI (1956-1971) dan anggota Dewan Pertimbangan Agung pada 1968.

Daun.id

dok.pribadi buku

Siapa sangka jika rekrutmen kader NU yang dilakukan oleh Kiai Wahab melalui mimpi ini bisa menghasilkan kader berkualitas seperti Kiai Masykur. Kader terbaik yang bukan hanya membawa manfaat bagi NU melainkan juga untuk bangsa Indonesia.

(abdul mufid/nf)


Artikel Pilihan

JADWAL SHOLAT HARI INI

SELASA, 31 JANUARI 2023 (JAKARTA PUSAT)
IMSYAK 04:25 SUBUH 04:35 DUHA 06:17 ZUHUR 12:08
ASHAR 15:29 MAGHRIB 18:19 ISYA 19:32  

Daun Media Network