Kisah Kesederhaan KH. Bisri Musthofa, Selalu Makan Dulu Sebelum Bertamu

"Beliau Dikenal begitu alim dan sederhana"

Life | 21 January 2023, 15:30
Kisah Kesederhaan KH. Bisri Musthofa, Selalu Makan Dulu Sebelum Bertamu

Daun.id - Kiai Bisri Musthofa merupakan sosok yang lengkap: Kiai, Budayawan, Muballigh, Politisi, Orator, dan Muallif (penulis). Sungguh, sosok Kiai yang memiliki kecerdasan lengkap. Ayahanda Kiai Mustofa Bisri dan Kiai Cholil Bisri ini menjadi referensi bagi santri dan tokoh negara. Tak heran, Kiai Sahal Mahfudh menyebut Kiai Bisri sebagai sosok yang memukau pada zamannya.

KH Bisri Musthofa lahir di Rembang, pada tahun 1914. Beliau putra pasangan KH. Zainal Musthafa dan Siti Khadijah, terlahir dengan nama Mashadi yang kemudian diganti dengan sebutan Bisri

Kiai Bisri dianugerahi delapan anak, yaitu Cholil, Musthofa, Adib, Faridah, Najihah, Labib, Nihayah dan Atikah. Cholil dan Musthofa merupakan dua putra K.H. Bisri Musthofa yang saat ini paling dikenal masyarakat sebagai penerus kepemimpinan pesantren yang dimilikinya.

1. Cerita Gus Yahya

Salah satu cucunya, anak dari Cholil Bisri, yakni Yahya Cholil Staquf atau yang biasanya lebih sering disapa Gus Yahya saat ini menjabat sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2022-2027 mendatang. Gus Yahya yang juga menjadi salah satu pengasuh Pondok Pesantren di Roudlotut Thalibin Rembang ini mempunyai sebuah kisah unik yang jarang diketahui oleh publik.

Gus Yahya mempunyai kisah unik tentang Bisri Mustofa, yang tak lain juga merupakan kakeknya sendiri, saat hendak mengisi sebuah pengajian.

Seperti dilansir dari Alif.id, Gus Yahya menceritakan. Pada suatu misi pengajian, Pada suatu misi pengajian, Kiai Bisri Mustofa mengajak serta seorang santri senior. Menjelang sampai ke tempat acara, Kiai Bisri menyuruh sopir berhenti di sebuah warung makan. Hidangan dipesan, tetapi si santri senior menolak ikut makan.

Daun.id

@kiaiyahyacholilstaquf

“Masih kenyang,” katanya. Kiai Bisri membiarkannya.

Sampai di tempat acara, sebelum pengajian dimulai, tuan rumah terlebih dahulu mempersilahkan menikmati hidangan makan (malam). Tentu saja Kiai Bisri menolak.

“Baru saja makan! Nanti saja.”

Usai pengajian, kembali makan malam ditawarkan, tapi Kiai Bisri tetap menolak.

“Masih kenyang.”

Si santri seniorlah yang kemudian gelisah oleh lapar karena tadi tidak ikut makan di warung. Kiainya pura-pura tidak tahu.

Melihat di antara suguhan jajanan terdapat lemper, santri itu merasa beruntung.

“Lumayan buat ganjal perut,” pikirnya.

2. Memberikan Ilmu Tersirat Kepada Santri Senior

Siapa sangka, baru saja si santri senior hendak menyambar makana yang disuguhkan, Kiai Bisri mengajak langsung pamitan.

Mau tak mau si santri harus menahan perih perut sampai esok harinya, karena besek berkat yang biasanya diberikan untuk dirayah santri-santri pun ternyata tidak diserahkan.

Daun.id

Youtube Lildaf

Menurut Imam Ghozali (Asy Syaikh Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghozzali Ath Thusi), ada yang lebih tinggi tingkatannya daripada ijtinaabun nawaahiy (menghindari larangan), yaitu ihtiraas ‘anin nawaahiy (memelihara diri dari larangan). Apa beda keduanya?

Semisal; dalam perkelahian, kalau orang berkelit dari pukulan sehingga pukulan itu luput, gerakan berkelit itulah ijtinaab. Kalau orang berlindung di dalam benteng sehingga tak dapat diserang, itulah ihtiraas. Jadi, ijtinaab itu manuver, sedangkan ihtiraas itu security system.

3. Pilih Makan dulu Sebelum Bertamu

Lebih lanjut Gus Yahya menceritakan jika setiap hendak menghadiri undangan pengajian, Kiai Bisri Mustofa mewajibkan diri mampir ke warung makan menjelang sampai ke tempat acara. Jajan, meskipun di tempat pengajian nanti biasanya tuan rumah menyediakan jamuan makan. Itu adalah ihtiraas ‘anith thama’, supaya tidak berharap-harap (thama’) akan suguhan si Tuan rumah.

Daun.id

alif.id

(abdul mufid/nf)


Artikel Pilihan

JADWAL SHOLAT HARI INI

SELASA, 31 JANUARI 2023 (JAKARTA PUSAT)
IMSYAK 04:25 SUBUH 04:35 DUHA 06:17 ZUHUR 12:08
ASHAR 15:29 MAGHRIB 18:19 ISYA 19:32  

Daun Media Network