Kata Indonesia Sudah Disebut di Majalah Suara NU 1927, Ini Faktanya

"Jasa para kiai NU memang besar"

Life | 23 January 2023, 10:30
Kata Indonesia Sudah Disebut di Majalah Suara NU 1927, Ini Faktanya

Daun.id - Nahdlatul Ulama (NU) berdiri pada 1926. Salah satu visi misi berdirinya ormas islam terbesar di dunia ini ialah merespons gerakan pemikiran kaum modernis secara global. Misal tentang persoalan perebutan kekuasaan di Hijaz, dan isu terkait dunia Islam pada umumnya.

Kebanyakan media Islam yang terbit pada saat itu menyerukan pembaruan keagamaan dan mengkritik keras praktik keagamaan masyarakat yang berlaku sebagai bid'ah dan sesat. Pada tahun berikutnya, yakni 1927, tak sampai setahun NU berdiri, bergegas menerbitkan majalah yang diberi nama Swara Nahdlatoel Oelama (Suara Nahdlatu Ulama). Majalah perdana yang sederhana ini terbit bulan Muharram 1347 bertepatan antara Juni/Juli 1927.

Seperti dilansir dari jatim.nu.or.id, menyebutkan jika salah satu pemprakarsa dari berdirinya majalah Suara Nahdlatul Ulama ini ialah KH. Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab.

Di awal penerbitan majalah yang masih sederhana itu, diketahui masih menggunakan bahasa Arab-Melayu dan bahasa Jawa Krama Inggil, karena juga mengingat kebanyakan anggota dari NU saat itu memanglah dari kalangan ulama dan santri yang belum terbiasa dengan huruf latin.

Tema yang diangkat pun juga tidak jauh dari persoalan sosial keagamaan yang meliputi fikih, ideologi, tasawuf, khutbah, dan beberapa kegiatan NU. Terbitnya majalah Suara Nahdalatul Ulama ini pun disambut positif oleh masyarakat hingga penyebarannya pun semakin luas.

1. KH. Abdul Wahab Chasbullah Membeli Mesin Percetakan Sendiri

Para petinggi NU pun mempunyai semangat dan antusias yang amat tinggi untuk terus menerbitkan dan menyebarkan majalah Suara NU. Sampai-sampai, diterangkan Mbah Wahab yang saat itu bermukim di Kertopaten Surabaya membeli mesin percetakan sendiri.

Mulanya majalah Suara NU yang tersebar di wilayah Jawa Timur, perlahan namun pasti meluas ke berbagai daerah lain seperti di Jawa Tengah.

Daun.id

dok. pribadi buku

Hampir semua jajaran di pengurus penerbitan majalah ini tak lain juga para petinggi di Nahdlatul Ulama. Dan yang menjadi direktur pertama majalan Suara NU ialah  H Hasan Gipo yang juga menjabat sebagai Presiden Tanfidziyah Hofdbestuur Nahdlatoel Oelama (PBNU). Ia dibantu oleh Ahmad Dahlan bin Muhammad Ahid sebagai anggota. Baru pada Nomor 12 Tahun ke-3, nama KH Abdul Wahab Chasbullah Tambakberas tercantum sebagai pemimpin redaksi.

2. Dari Suara Nahdlatul Ulama menjadi Berita Nahdlatul Ulama

Ternyata perkembangan majalah perdana milik NU ini sangat pesat. Terbukti akhirnya penyebaran majalahnya pun hingga ke luar Pulau Jawa. Bahasa yang digunakan mulanya adalah Arab-Melayu dan Jawa Krama Inggil juga berubah menjadi bahasa Indonesia dan menggunakan huruf latin.

Saat itu, Mbah Wahab menunjuk Kiai Mahfoedz Siddiq dan Abdullah Ubaid menangani majalah itu. Peran majalah Suara Nahdlatul Ulama yang menjadi Berita Nahdlatul Ulama itu sangat penting terhadap perkembangan media-media NU lainnya hingga saat ini, seperti  Lembaga Ta'lif wan Nasyr (LTN), majalah Aula, TV9, TVNU, NU Online dan sejenisnya.

Daun.id

dok.pribadi buku

3. Kata Indonesia Sudah Disebut di Majalah Suara Nahdlatul Ulama pada 1927

Uniknya dalam majalah Suara Nahdlatul Ulama yang terbit pada kisaran Juni/Juli 1927 itu sudah menyebutkan kata Indonesia di sampulnya. Ya, para kiai NU saat itu sudah menyebutkan istilah negara kita setahun sebelum lahirnya Sumpah Pemuda yang berlangsung1928.
 
Daun.id

dok. pribadi buku

(abdul mufid/nf)


Artikel Pilihan

JADWAL SHOLAT HARI INI

SELASA, 31 JANUARI 2023 (JAKARTA PUSAT)
IMSYAK 04:25 SUBUH 04:35 DUHA 06:17 ZUHUR 12:08
ASHAR 15:29 MAGHRIB 18:19 ISYA 19:32  

Daun Media Network