Kisah KH Sahal Mahfudz dan Istri di Awal Pernikahan, Pernah Jualan Kitab dan Istri Menjahit

"Selain kiai, beliau juga dikenal sebagai penulis yang produktif"

Life | 23 January 2023, 15:23
Kisah KH Sahal Mahfudz dan Istri di Awal Pernikahan, Pernah Jualan Kitab dan Istri Menjahit

Daun.id - Dr. KH. MA. Sahal Mahfudz lahir pada tanggal 17 Desember 1937, di Desa Kajen, Margoyoso Pati. Beliau merupakan putra ketiga dari enam bersaudara KH. Mahfudz bin Abdussalam al- Hafidz (w. 1944 M) dengan Hj. Badi’ah (w. 1945 M).

Saudara-saudara beliau diantaranya, M. Hasyim, Hj. Muzayyanah (istri KH. Manshur Pengasuh PP.an-Nur Lasem), Salamah (istri KH. Mawardi, pengasuh PP. Bugel-Jepara, kakak istri KH. Abdullah Salam), Hj. Fadhilah (istri KH. Radhi Shaleh Jakarta), Hj. Khadijah (istri KH. Maddah, pengasuh PP.as-Sunniyyah Jember yang juga cucu KH. Nawawi, adik kandung KH. Abdussalam, kakek KH. Sahal).

Sejak kecil, Kiai Sahal sudah menunjukkan ketertarikannya kepada dunia kelimuan. Beliau pun mempunyai banyak koleksi buku dengan tema yang beragam.

1. Mengembara Menuntut Ilmu

Sejak kecil, Dr. KH. MA. Sahal Mahfudz memulai pendidikannya, dengan diasuh oleh ayahnya sendiri. Ayahnya adalah sosok kiai yang memiliki jalur nasab dengan Syekh Ahmad Mutamakkin. Selain kepada ayahnya beliau juga belajar kepada pamannya sendiri, KH. Abdullah Salam.

KH. Abdullah Salam adalah sosok guru yang tidak pernah mendikte Kiai Sahal. Beliau diberi kebebasan dalam menuntut ilmu di manapun. Tujuannya agar Kiai Sahal bertanggung jawab pada pilihannya. Apalagi dalam menuntut ilmu Kiai Sahal menentukan adanya target, hal inilah yang menjadi kunci kesuksesan beliau dalam belajar.

Daun.id

fb Udin

Setelah selesai, beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Madrasah Ibtidaiyah (1943-1949), Madrasah Tsanawiyah (1950-1953) Perguruan Islam Mathali’ul Falah, Kajen, Pati. Setelah beberapa tahun belajar di lingkungannya sendiri,beliau nyantri ke Pesantren Bendo, Pare, Kediri, Jawa Timur di bawah asuhan Kiai Muhajir.

Selanjutnya tahun 1957-1960, beliau belajar di pesantren Sarang, Rembang, tentang ushul fiqih, qawa’id fiqh dan balaghah di bawah bimbingan Kiai Zubair Dahlan,  Pada pertengahan tahun 1960-an. Dr. KH. MA. Sahal Mahfudz belajar ke Makkah di bawah bimbingan langsung Syekh Yasin al-Faddani.

Di Bendo Dr. KH. MA. Sahal Mahfudz mendalami keilmuan tasawuf dan fiqih termasuk kitab yang dikajinya adalah Ihya ‘Ulumiddin, al-Mahalli, Fath al-Wahhab, Fath al-Mu’in, al-Bajuri, at-Taqrib, Sullam at-Taufiq, Safinat an-Najah, Sullam al-Munajat dan kitab-kitab kecil lainnya. Di samping itu juga aktif mengadakan halaqah-halaqah kecil-kecilan dengan teman-teman senior.

Kepada Kiai Ahmad beliau mengaji kitab tasawuf al-Hikam. Kitab yang dipelajari waktu di Sarang antara lain Jam’ al-Jawami’,‘Uqud al-Juman, Tafsir al-Baidhawi, Lubbab an-Nuqul, Manhaj Dzawi an-Nadzar karangan Syekh Mahfudz Termas dan lain-lain. Sementara itu, pendidikan umumnya  diperoleh dari kursus ilmu umum di Kajen (1951-1953).

2. Riwayat Keluarga

Pada tahun 1968 M (ada yang menyebut 1969) Dr. KH. MA. Sahal Mahfudz melepas masa lajangnya dengan menikahi Dra. Hj. Nafisah binti KH. Abdul Fattah Hasyim, Pengasuh Pesantren Fathimiyah Tambak Beras Jombang. Buah dari penikahannya, beliau dikarunia seorang putra, bernama Abdul Ghafar Razin.

Daun.id

pesantren.id

Ada kisah yang menarik di awal pernikahan belaiu dengan Hj. Nafisah. Seperti yang ditulis oleh Muchlishon Rochmat (Alumni Perguruan Islam Mathal’ul Falah Kajen Pati) dari mediasantrinu.com menerangkan, pernikahan Kiai Sahal tidak lazim pada umunya.

3. Baru Bertemu Istri Setelah 2 Tahun Akad Nikah

Ketika itu ia sedang mengunjungi sanak keluarga yang ada di desa Sirahan Cluwak Pati, kemudian datanglah seorang santri dan berkata bahwa Kiai Sahal diminta oleh pamannya, KH. Abdullah Salam, untuk pulang segera ke Kajen. Dalam perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan. Ada gerangan apa sehingga ia diminta pulang dengan segera.

Sesampai di Kajen, Kiai Sahal mendapati beberapa Kiai yang sedang berkumpul, di antaranya adalah KH. Abdullah Salam, KH. Bisri Syansuri, serta beberapa Kiai Kajen. Tentu saja itu membuat Kiai Sahal kaget dan bertanya-tanya. Ia mendekati KH. Abdullah Salam dan bertanya perihal berkumpulnya orang-orang tersebut. Kemudian dijelaskan bahwa dia akan segera dinikahkan dengan anaknya KH. Fatah Jombang.

Sebagai seorang yang percaya kepada pamannya, ia mengiyakan saja perjodohan tersebut meski ia belum mengetahui calon istrinya itu. Dan tidak berlangsung lama, akad nikah pun segera dimulai dengan dipimpin oleh KH. Bisri Syansuri.

Daun.id

mediasantrinu.com

Uniknya, Kiai Sahal baru bertemu istrinya dua tahun setelah akad ijab kabul tersebut, yakni pada tanggal 6 Juni 1968. Jadi, setelah akad ia menjalani hari-harinya sebagaimana sebelumnya, tanpa hidup bersama istrinya tersebut. Karena memang pada waktu itu, Nafisah baru menjadi mahasiswi tingkat tiga di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

4. Kiai Sahal Berjualan Kitab dan Hj. Nafisah Menjahit

Muchlison Rochmat
lebih lanjut menjelaskan keadaan di awal-awal Kiai Sahal menikah. Pada awal-awal kehidupan rumah tangga mereka berjalan sebagaimana yang orang-orang alami, yakni melakukan berbagai macam usaha –mulai dari jualan kitab (Kiai Sahal) dan menjahit (Nyai Nafisah)- untuk menggerakkan perekonomian rumah tangga.

Daun.id

fb udin

Ada persamaan antara kisah pernikahan Kiai Sahal dan sang keponakan, Gus Dur. Kalau Kiai Sahal tidak ketemu sang istri selama dua tahun, maka Gus Dur juga tidak ketemu istri selama tiga tahun semenjak akad nikah. Mereka berdua juga sama-sama sudah dipanggil oleh Allah SWT. 

(abdul mufid/nf)


Artikel Pilihan

JADWAL SHOLAT HARI INI

SELASA, 31 JANUARI 2023 (JAKARTA PUSAT)
IMSYAK 04:25 SUBUH 04:35 DUHA 06:17 ZUHUR 12:08
ASHAR 15:29 MAGHRIB 18:19 ISYA 19:32  

Daun Media Network