Kisah Ibnu al-Haytham Bapak Optik Dunia, Pernah Berpura-Pura Gila

"Ibnu al-Haytham adalah seorang ilmuwan Arab yang memiliki jasa besar terhadap dunia optik."

Life | 23 January 2023, 15:56
Kisah Ibnu al-Haytham Bapak Optik Dunia, Pernah Berpura-Pura Gila

Daun.id - Salah satu ilmuwan besar Arab yang sangat berpengaruh di dunia hingga saat ini adalah Ibnu al Haytham. Pada masa mudanya ia telah menguasai seluruh karangan ilmuan Yunani dan Arab di bidang ilmu pasti dan ilmu alam. Ia bisa disebut selangkah lebih maju ketika berhasil memecahkan masalah yang belum dilakukan oleh ilmuwan sebelumnya.

Banyak buku dan catatan yang membuktikan kecerdasan di bidang ilmu pasti dan ilmu alam. Terdapat sekitar lima puluh buku, tulisan dan risalah-risalah yang telah ia tulis, dan yang paling terkenal dari keseluruhan adalah buku al-Manazir yang membahas tentang dunia optik. Buku inilah yang membuat Ibnu al-Haytham terkenal hingga saat ini.
Daun.id

istimewa

Asal dan Masa Kecil Ibnu al-Hytham

Ibnu al-Hytham lahir di Basra (Irak) pada 965 M, dan dibesarkan di Basrah dan Baghdad. Dua kota yang ketika itu merupakan pusat ilmu pengetahuan pada dinasti Abbasiyah. Ibnu al-Hytham memulai pendidikan awalnya di Basrah, sebelum kemudian dilantik menjadi pegawai pemerintah di kota kelahirannya.

Beberapa saat kemudian, setelah mengabdi untuk pemerintah, Ibnu al-Hytham memutuskan hijrah ke Ahwaz dan Baghdad. Selama ia hijrah, ia melanjutkan pengkajian dan aktif dalam dunia tulis-menulis. Ketika belajar, ia aktif pada bidang ilmu agama maupun umum sekaligus, sampai dengan ilmu matematika, fisika, astronomi, kedokteran, filsafat, mantik dan lain-lain lagi.

Ibnu al-Haytham Bapak Optik Dunia

Ibnu al-Haytham adalah ilmuwan Muslim yang terkenal dengan kecerdasannya dalam ilmu pasti dan ilmu alam, lebih khusus adalah pada ilmu optik. Ibnu al-Haytham berkontribusi besar terhadap perkembangan kajian cahaya dan penglihatan. Ibnu al-Haytham adalah ilmuwan besar yang dikenal sebagai Bapak Optik Modern, serta ilmuwan cemerlang di masa Kejayaan Islam (the Islamic golden age). 

Ibnu al-Haytham disebut sebagai peletak dasar metode kamar gelap atau Albeit Almuzlim yang lebih dikenal dengan kamera obscura. Pengetahuan itu menjadi dasar fotografi modern kontemporer. Karena kontribusinya itulah, Ibnu al-Haytham dikenal sebagai Bapak Optik Modern. Sebagai ilmuwan, Ibnu Haitham memiliki nama lain yang dikenal oleh dunia Barat, yakni Al-Hazen, Avennathan, dan Avenetan.

Pada awalnya, dasar tentang optik telah ada sejak zaman keemasan pemikiran Yunani. Namun Ibnu al-Haytham melakukan telaah kritis terhadap karya-karya pemikir Yunani terdahulu seperti teori Ptolemy dan Euclid. Teori pemikir Yunani tersebut menyatakan bahwa manusia melihat benda melalui pancaran cahaya yang keluar dari matanya. Namun Ibnu al-Haytham bukan mata yang memberikan cahaya, tetapi benda yang memantulkan cahaya menuju mata hingga terjadi penglihatan, sebagaimana teori-teori cahaya dan penglihatan yang dipelajari di sekolah menengah saat ini.

Salah satu karya besarnya adalah Book of Optics (1021) atau Kitab Al-Manaazir atau De Aspectibus. Kitab ini telah diterjemahkan dalam bahasa latin serta menjadi rujukan para ilmuwan setelahnya. Pemikiran Ibnu al-Haytham banyak memengaruhi para pemikir barat masa pencerahan seperti Roger Bacon, René Descartes, Christian Huygens, Johannes Kepler, Leonardo da Vinci dan lainnya. Pemikiran dan karya Ibnu al-Haytham hingga saat ini masih relevan untuk perkembangan ilmu optik. Bahkan Harvard Magazine edisi September-Oktober 2003 menyampaikan apa yang pernah diucapkan oleh Ibnu Haitham: "Jika tujuan akhir seseorang belajar adalah mencapai kebenaran, ia harus membuat dirinya sebagai musuh dari apa yang semua telah dibacanya."

Ibnu al-Haytham dan Banjir Sungai Nil

Kecerdasan Ibnu al-Haytham membuatnya dikenal luas oleh masyarakat sebagai cendekiawan sains. Bahkan, Khalifah Al-Hakim bin Amirillah (386-411 H / 996-1021 M) dari Dinasti Fathimiyah mengundang Ibnu al-Haytham ke Mesir. Pada saat itu, perjalanan darat dari Bagdad ke Mesir sangat sukar ditempuh, tak seperti sekarang. 

Sesampainya Ibnu al-Haytham di Mesir, pemerintah Dinasti Fathimiyah berharap ia bersedia menerapkan ilmunya guna mengatasi banjir sungai Nil yang kerap kali melanda negeri itu setiap tahunnya. Namun harapan tersebut belum dapat diwujudkan karena kurangnya peralatan dan teknologi pada masa itu. Lantaran belum dapat mewujudkan harapan pemerintah, Ibnu Haitham lantas meninggalkan pekerjaan itu dengan berpura-pura gila untuk melindungi dirinya dari kemurkaan pemerintah. Semenjak itu Ibnu al-Haytham tidak pernah lagi tampak, dan akhirnya ia ditemukan dalam kondisi terbunuh.

(m. taufik naufal/nf)


Artikel Pilihan

JADWAL SHOLAT HARI INI

SELASA, 31 JANUARI 2023 (JAKARTA PUSAT)
IMSYAK 04:25 SUBUH 04:35 DUHA 06:17 ZUHUR 12:08
ASHAR 15:29 MAGHRIB 18:19 ISYA 19:32  

Daun Media Network