Kisah KH Idham Naik Mobil Bareng KH Saifuddin Zuhri, Padahal Baru Belajar Nyetir

"Kisahnya cukup jenaka dan mengesankan"

Life | 25 January 2023, 14:18
Kisah KH Idham Naik Mobil Bareng KH Saifuddin Zuhri, Padahal Baru Belajar Nyetir

Daun.id - Putra asli Kalimantan yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terlama, yakni sejak 1950-an. Ya, Kiai Idham ialah tokoh yang paling lama memimpin Nahdlatul Ulama (NU). Sejak dekade 1950-an, ia telah aktif dalam Gerakan Pemuda Ansor.

Ia terpilih sebagai Sekjen PBNU periode kepengurusan Ketua Umum KH. Masjkur. Idham Chalid menjabat Ketua Umum Tanfidziah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) paling lama yaitu 28 tahun secara terus-menerus dari tahun 1956 sampai 1984. Kepemimpinan Idham Chalid sebagai Ketua Umum PBNU, khususnya dalam episode akhir, mengalami dinamika konflik hingga digantikan oleh K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tahun 1984.

Saat Orde Baru berkuasa, Idham Chalid diangkat menjadi Menteri Negara Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kabinet Pembangunan I (1968-1973) dan Menteri Sosial ad interim (1970 -1971). Setelah Pemilihan Umum 1971, ia terpilih menjadi Ketua DPR/MPR-RI periode 1971-1977.

Selanjutnya menjabat Ketua DPA-RI periode 1978-1983, dan anggota Tim P7 (Penasihat Presiden Tentang Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dengan ketuanya Dr. H. Roeslan Abdulgani.

Dalam sejarah politik dan kepartaian era Orde Baru, Idham Chalid merupakan salah seorang deklarator dan pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tanggal 5 Januari 1973 serta menjadi presiden partai.

Namun, di balik sosoknya yang begitu alim dan disegani baik sebagai ulama maupun politisi, ternyata ia menyimpan sebuah kisah unik nan jenaka. Kisah ini dituliskan oleh koleganya, KH. Saifuddin Zuhri dalam buku Guruku Orang-orang dari Pesantren. Diterbitkan oleh PT. Alma'arif, 1974.

1. Sering Nebeng Naik Mobil Kolega

Kisah ini terjadi ketika ia masih menjadi anggota parlemen sementara. Ketika itu tak setiap anggota parlemen punya mobil, termasuk Kiai Saifuddin. Maka berkembanglah tradisi nebeng saban pulang dari gedung parlemen.

Daun.id

kanalkalimantan.com

Sebelum memiliki mobil, Kiai Idcham Chalid senasib dengan Kiai Saifuddin, anggota geng nebenger. Salah satu mobil yang sering ditumpangi adalah milik kawan mereka, Kiai AS Bachmidlah. Mobil tua yang kadang-kadang mogok.

Tak tahu berterima kasih karena mendapat tumpangan gratis, Kiai Idcham dan Kiai Saifuddin tetap saja mencela dengan maksud menggoda temannya itu.  “Insya Allah tak akan mogok,” kata Kiai AS Bachmidlah.

2. Pamer Mobil Baru

Setelah sekian lama hanya menjadi orang yang nebeng mobil teman, akhirnya Kiai Idham membeli sebuah mobil. Ya meski kondisi mobilnya bekas, namun tetap saja disebut baru. Karena memang baru beli. Seperti hendak pamer, mobil itu dibawanya pergi ke parkir gedung parlemen. Ketika keluar gedung usai bersidang, Kiai Idham memberi tahu Kiai Saifuddin kalau ia baru membeli mobil.

“Lihat itu mobil saya,” katanya sembari mengarahkan telunjuknya ke arah parkiran. Di sana, di bawah pohon beringin, terparkir sebuah mobil merk Human berwarna hijau tua.

Kiai Saifuddin seperti tengah berakting menunjukkan rasa keheranan sekaligus kekaguman. Ya, saat itu diceritakan jika Kiai Idham dapat kiriman uang dari kampung halaman, Kalimantan.

“Dapat dari mana?”, tanya kiai Saifudin. “Ada kiriman uang dari Kalimantan. Saya beli seharga 18.000” Saya kira jawaban terakhir bukan informasi yang ditanyakan Kiai Saifuddin. Tapi, tetap saja ditanggapi Kiai Saifuddin

Daun.id

wikped

“Kok mahal begitu?” tanya Kiai Saifuddin.  “Mahal? Lihat dulu barangnya. Mesinnya tokcer,” jawab Kiai Idham membangga-banggkan mobil dengan lagak seorang yang merasa di Indonesia hanya satu orang saja yang punya mobil jenis itu.

3. Belum Lancar Menyetir

Di tengah pembicaraan keduanya, Kiai Muhammad Ilyas dan Kiai A. Achsien keluar gedung. Kiai Saifuddin langsung mengajak keduanya nebeng. Ketika Kiai Idham sudah berada di depan setir, terbit rasa penasaran Kiai Saifuddin. Setahu dirinya Kiai Idham belum bisa menyetir. “Kapan ia belajar?” pikir Kiai Saifuddin.

Namun para kolega Kiai Idahm tetap berusaha yakin jika temannya itu memang betul-betul sudah lancar mengendari mobil. Tak lama muncul gelagat buruk. Mobil berjalan tidak stabil. Pedal rem sering diinjak tiba-tiba. Begitupun dengan gas.

Kiai Saifuddin mulai sering membaca shalawat. Di jalan dekat Stasiun Gambir mobil nyaris menyerempet sepeda motor. Mobil tetap melaju. “Tiba-tiba Kiai Ilyas berseru. “Kalau ada orang jual rokok di depan itu, berhenti,” katanya.

4. Kiai Ilyas Pilih Turun dari Mobil

Akhirnya tak lama setelah mendengar permintaan Kiai Ilyas yang akan membeli rokok, Kiai Idham memberhentikan mobilnya. Kiai Saifuddin mengira Kiai Ilyas akan membeli rokok. Rupanya tidak. Ia menyusuri trotoar.

“Ayo naik!” rayu Kiai Saifuddin. “Terima kasih! Jalan kaki lebih aman!” Kata Kiai Ilyas sambil terus menyusuri trotoar menuju prapatan di depan sana. Usaha gagal. “Penakut,” teriak Kiai Idham pada Kiai Ilyas. Yang diajak bicara, terus berjalan dan cuek.

Daun.id

dok. buku Guruku Orang-orang Dari Pesantren

Meski akhirnya Kiai Saifuddin sampai di tujuan dengan selamat, tapi ia mengaku naik mobil yang dikendarai oleh Kiai Idham saat itu cukup bikin dag dig dug. Ia pun pindah ke depan menggantikan tempat yang ditinggal Kiai Ilyas. Kemudian perjalanan pun dilanjutkan dengan perasaan berdebar-debar.

Kiai Saifuddin tak henti-hentinya merapal shalawat memohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah SWT.

(abdul mufid/nf)


Artikel Pilihan

JADWAL SHOLAT HARI INI

SELASA, 31 JANUARI 2023 (JAKARTA PUSAT)
IMSYAK 04:25 SUBUH 04:35 DUHA 06:17 ZUHUR 12:08
ASHAR 15:29 MAGHRIB 18:19 ISYA 19:32  

Daun Media Network