Kisah Kegigihan Nyai Sholihah Ibunda Gus Dur, Sempat Jualan Beras

"Kiegigihannya patut jadi panutan"

Life | 26 January 2023, 11:28
Kisah Kegigihan Nyai Sholihah Ibunda Gus Dur, Sempat Jualan Beras

Daun.id - Nama Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sampai saat ini masih terus dikenang dan selalu dielu-elukan oleh kebanyakan masyarakat tanah air. Sosok pemimpin sekaligus ulama nyentrik ini dikenal sangat dekat dengan berbagai kalangan, termasuk kaum minoritas.

Perayaan Imlek yang belum lama ini berlalu, dan sontak saja nama Gus Dur pun kembali diingat dan dibangga-banggakan. Karena seperti diketahui, jika peresmian agama Konghucu itu tak lain adalah peran dari Presiden keempat RI itu.

Di balik sosoknya yang begitu fenomenal, ada peran seorang perempuan yang begitu gigih dabn sungguh-sungguh. Wanita itu adalah Munawaroh atau Nyai Hajah Sholihah alias Nyai Sholihah yang tak lain adalah ibunda Gus Dur.

Wanita di yang mempunyai andil penting di balik hebatnya sosok Gus Dur itu dalam keseharian biasa dipanggil dengan sapaan Neng Waroh atau belakangan jadi Nyai Sholihah Wahid lahir di Jombang, pada 11 Oktober 1922.

Daun.id

web.tebuireng

Dia adalah anak kelima dari 10 bersaudara putri dari pasangan Kiai Bisri Syansuri (pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang dengan Nyai Chadijah.

1. Didikan Ketat ala Pesantren

Sebagai anak seorang ulama besar, sejak kecil pun Nyai Sholihah sudah dididik dengan pendidikan khas pesantren dengan begitu ketat. Pendidikan awal yang diterimanya tak lain adalah pendidikan agama serta bahasa Arab sebagai bekal mengajar para santri putri di pesantren yang diasuh ayahnya.

Kiai Bisri mendidik putrinya di madrasah diniyah yang dikelolanya dengan materi-materi pendidikan Islam tradisional sebagaimana diajarkan kepada santri

Menurut kesaksian salah satu anaknya, yakni KH Salahuddin Wahid alias Gus Sholah, dalam buku Sama Tapi Berbeda: Potret Keluarga Besar KH A Wahid Hasyim, pendidikan yang diterima ibundanya adalah pendidikan yang kental dan sarat dengan nilai ajaran agama, yang mencapai tingkat setaraf pendidikan menengah pertama (madrasah tsanawiyah).
 
Daun.id

Youtube Manah Salim

“Namun, transfer nilai-nilai keislaman dari mbah yai (kakung) dan mbah nyai (putri) kepada ibu berjalan dengan baik terutama terkait keteladanan,” katanya.

2. Ikut Berjuang dalam Perang Kemerdekaan RI

Di tengah medan perang mempertahankan kemerdekaan, Neng Waroh menyusup sebagai kurir yang bertugas membawa makanan, pesan-pesan rahasia serta obat-obatan ke garis depan pejuang di daerah Mojokerto, Krian (Sidoarjo) dan Jombang. 

Meski di tengah kecamuk pertempuran, hal itu tak menyurutkan nyalinya bertugas sebagai kurir. Tugas yang membahayakan keselamatannya itu dilakukan oleh Nyai Solihah Wahid Hasyim. Semuanya demi usaha yang bisa dilakukan seorang perempuan untuk membantu perjuangan melawan penjajahan.

Daun.id

laduni.id

Saat itu, Nyai Solihah yang tak lain adalah ibunda Presiden Keempat RI, Gus Dur masuk dalam jajaran anggota Fujinkai yang merupakan organisasi perempuan bikinan Jepang dan beranggotakan para istri-istri pejabat.

3. Menikah dengan KH. Wahid Hasyim

Nyai Hj. Sholichah Munawaroh Wahid Hasyim, sebelumnya melepas masa lajangnya dengan dinikahi Gus Abdurrahim, putra dari KH. Cholil Singosari, tetapi sang suami kemudian wafat pada tahun awal pernikahan mereka, seperti dikutip dari laduni.id.

Kemudian, Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim menikah kembali dengan KH. Wahid Hasyim pada tahun 1936 M, tepat hari Jum’at, 10 Syawal 1356 H. Setelah menikah, pada awalnya, mereka tinggal di Denanyar, tetapi kemudian pindah ke Tebuireng, sampai sekitar tahun 1942.

Daun.id

Youtube Manah Salim

Buah dari penikahannya lahir enam anak yang di kemudian hari menjadi tokoh hebat yakni Presiden keempat Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid, Aisyah Hamid Baidlowi, KH. Salahuddin Wahid, Umar Wahid, Lily Chodijah Wahid, dan Hasyim Wahid.

4. Jadi Single Parent, Berjualan Beras untuk Menyambung Hidup

Mahligai rumah tangga KH. Wahid dengan Neng Waroh yang usai menikah lebih akrab dikenal dengan nama Nyai Sholichah ini hanya berlangsung 15 tahun. Tepatnya tahun 1953, KH. Wahid Hasyim meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil di Jawa Barat.

Di usia yang belum genap 30 tahun itu, Nyai Sholihah harus merawat 6 anaknya seorang diri. Saat itu ia sudah bermukim di Jakarta karena sang suami kala itu menjabat sebagai menteri agama. Meski janda seorang menteri agama, namun ia tak bergelimang harta.

Dilansir dari kanal youtbe Manah Salim, menerangkan. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan menghidupi keenam anaknya, Nyai Sholihah tak malu untuk berjualan beras kepada para pegawai kemnetrian agama kala itu.

Bahkan diterangkan lebih lanjut jika kala itu Nyai Sholihah juga menawarkan beberapa barang material bangunan, seperti pasir dll.

Daun.id

Youtube Manah Salim

Sebenarnya saat itu, Nyai Sholihah ditawari untuk kembali ke Jombang dan dibantu untuk merawat anak-anaknya, namun ia tak mau dan merawat keenam anaknya seorang diri.

Diceritakan sampai akhir hayat pun, Nyai Sholihah tak menikah lagi. Dan terbukti semua anak-anaknya menjadi para pejabat dan orang-orang yang berjasa besar untuk negeri ini. 

(abdul mufid/nf)


Artikel Pilihan

JADWAL SHOLAT HARI INI

SELASA, 31 JANUARI 2023 (JAKARTA PUSAT)
IMSYAK 04:25 SUBUH 04:35 DUHA 06:17 ZUHUR 12:08
ASHAR 15:29 MAGHRIB 18:19 ISYA 19:32  

Daun Media Network