Kisah Kedermawanan Sahabat Rasulullah Ulbah bin Zaid Meski dalam Kefakiran

"Kisah kedermawanan Ulbah bin Zaid merupakan teladan yang patut untuk dicontoh pemuda masa kini."

Life | 28 January 2023, 15:55
Kisah Kedermawanan Sahabat Rasulullah Ulbah bin Zaid Meski dalam Kefakiran

Sebuah kedermawanan adalah sebuah perbuatan yang terpuji. Sifat dermawan memiliki beberapa keutamaan, dengan kedermawanan akan mempererat tali silaturahmi, mengurangi kesenjangan sosial dan juga menumbuhkan rasa empati kepada kaum yang kurang mampu. Kedermawanan tidak saja dalam bentuk harta benda, namun juga bisa dirupakan sebuah doa.

Rasulullah SAW bersabda, “bersedekalah kamu untuk dirimu dan kawan, saudara, orang tuamu yang sudah meninggal dunia, sekalipun hanya seteguk air, jika tidak mampu demikian, berhadialah dengan bacaan Al-Qur’an seayat dan jika tidak mampu pula, maka mohonkanlah ampunan dan rahmat bagi mereka. Sungguh Allah menjanjikan kepadamu bagi pengabulannya”. (Hayatul Qulub).

Musim Paceklik di Madinah

Daun.id

pexels.com

Pada zaman Rasulullah SAW, terdapat seorang sahabat yang bernama Ulbah bin Zaid. Tidak seperti Umar bin Khattab, Abu Bakar Ash Shiddiq atau Abdurahman bi Auf yang terkenal, Ulbah bin Zahid adalah sahabat yang tidak terkenal. Namun meskit tidak terkenal, Ulbah bin Zahid ini adalah termasuk sahabat yang dermawan.

Pada bulan Sya’ban tahun 9 H, Madinah dan sekitarnya sedang mengalami musim paceklik. Kala itu perekonomian kaum muslimin memasuki masa yang sulit-sulitnya. Musim panas berada pada puncaknya, angin di musim itu juga membawa hawa panas dengan membawa debu-debu  mengotori atap-atap dan halaman rumah penduduk di Madinah. 

Di musim panas seperti itu, biasanya penduduk kota Madinah akan lebih banyak menetap di rumah, atau tinggal di kebun-kebun kurma sambil memetik kurma muda yang memang sedang ranum-ranumnya (pohon kurma berbuah pada musim panas). Namun meski mengalami ekonomi yang paceklik, kondisi politik Islam pada saat itu justru dalam keadaan berjaya. Hal tersebut merupakan dampak kemenangan yang diraih oleh pasukan Islam terutama setelah Fathul Makkah dan perang Hunain.

Permulaan dan Persiapan Perang Tabuk

Pada masa itu, Rasulullah SAW mengirimkan surat kepada seluruh raja di dunia ini untuk masuk Islam atau harus membayar pajak, atau diperangi. Hal tersebut kemudian menambah panas keadaan antara Romawi dan Islam.  Sebelumnya pasukan gabungan Romawi dan beberapa kabilah musyrik dikalahkan oleh pasukan Muslim. Ketika itu Khalid bin Walid sebagai panglima perang kaum muslimin berhasil membawa kemenangan.

Desas-desus pembalasan pun terdengar oleh kaum Muslimin, yaitu pembalasan pasukan Romawi yang akan menyerang daerah yang telah dikuasai kaum muslimin dan bahkan menuju kota Madinah. Disinilah letak kisah seorang sahabat Ulbah bin Zaid. 

Pada saat itu tersebutlah Ulbah bin Zaid, sahabat yang sangat faqir. Ia adalah seorang dari golongan Anshor dari kabilah Aus. Dia menyaksikan kesibukan kaum muslimin dalam persiapan jihad ke Tabuk, melihat kaum muslimin yang dari berbagai pelosok negeri berbondong-bondong datang tinggal dan menetap di Madinah, memancang kemah, dengan membawa apa yang mereka miliki seperti senjata dan kendaraan.

Dia juga melihat transaksi di pasar-pasar Madinah berhubungan dengan persiapan perang, mulai dari jual beli kuda, unta, panah, pedang, tameng besi dll. Dia menyaksikan itu semua dengan kesedihan yang sangat mendalam. Semua orang telah membeli perlengkapan perangnya. Namun dia tidak memiliki apapun untuk membelinya atau menukarnya. Apalagi pagi itu dia mendengar Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam mengatakan: 

"man jahhaza jaisyul usroh falahul jannah"

“Barang siapa yang membantu perbekalan pasukan yang kesulitan, Allah mengampuninya dan baginya surga.”

Maka semakin sedihlah hatinya, ketika semua orang mendapatkan surga kecuali dirinya. Semakin panas dingin badannya saat mendengar sabda Rasulullah SAW itu. Selain itu, Rasulullah SAW juga mensyaratkan kepada siapa yang mau ikut berperang harus membawa alat dan kendaraan perang sendiri. Dilihat juga oleh Ulbah bin Zaid ketika dia duduk di masjid Nabawi, dia melihat Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam dikelilingi para sahabat, datang Abu Bakar sambil membawa semua harta yang dia punya sejumlah 4000 dirham.

Umar pun datang dengan membawa setengah hartanya. Utsman bin Affan membawa seribu dinar dalam pakaiannya, bahkan kafilah dagangnya yang hendak berangkat ke Syam sejumlah dua ratus ekor unta lengkap dengan barang-barangnya dia keluarkan sedekahnya, ditambah lagi dengan seratus ekor unta, lalu ditambahnya lagi seribu dinar uang kontan. 

Kemudian datang pula Abdurahman bin Auf sang dermawan, membawa 200 uqiyah perak, datang pula ‘Abbas bin Abdul Mutholib paman Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, Tholhah bin ‘Ubaidillah, Sa’ad bin Ubadah, Muhammad bin Maslamah, yang mereka semua berinfaq di depan mata Ulbah bin Zaid. Dia juga melihat kedatangan orang-orang yang kurang berada membawa infaq semampunya, dimulai oleh ‘Ashim bin Adiy mebawa 70 wasaq kurma, ada yang membawa dua mud bahkan satu mud kurma, tidak satu pun kaum muslimin yang tidak memberi kecuali kaum munafiqin. 

Ulbah bin Zaid Bersedekah Kepada Allah

Daun.id

unplash.com

Apa yang dirasakan oleh Ulbah selain kesedihan yang sangat. Apa yang bisa diperbuat sementara ia tidak punya apa-apa, sementara orang berbondong berinfaq. Melihat hal itu pulanglah Ulbah dengan membawa semua kesedihannya. 

Ketika senja telah beralu dan malam pun tiba, Ulbah berusaha memejamkan matanya, tapi bagaimana mau dipejamkan matanya sementara hati masih berdebar-debar, pikiran masih galau, apa yang bisa dilakukannya selain membolak-balikkan badannya di atas tikar yang lusuh hingga tengah malam. Akhirnya dia bangkit, timbul sebuah ide, sebuah pemikiran dalam dirinya, yang kiranya apabila dia melaksanakan idenya ini mudah-mudahan dapat mengurangi kegundahan hatinya. Lantas Ulbah berwudhu dan melaksanakan sholat malam dan bermunajat.

Dalam sholatnya dia pun menangis, dia sebutkan kefaqirannya, dia sebutkan kelemahannya, dia sebutkan ketidakberdayaannya, dia minta kepada Allah jangan sampai kefaqirannya dan ketidakmampuannya berinfaq pada persiapan perang Tabuk ini menggeser kedudukannya dibanding sahabat-sahabatnya kelak di surga, jikalau aku Engkau buat susah di dunia, janganlah pula Engkau jauhkan aku dari surgamu. Diantara doanya adalah:

“Ya Allah, engkau perintahkan kami untuk berjihad, engkau perintahkan kami untuk berangkat ke Tabuk, sedangkan engkau tidak memberikan aku sesuatu apapun untuk bekal berangkat berperang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam-Mu, maka malam ini saksikanlah ya Allah, sesungguhnya aku telah bersedekah kepada setiap muslim dari perlakuan zhalim mereka terhadap diriku, maka inilah kehormatanku aku infaqkan di jalan-Mu, jika ada seorang muslim menghinakan dan merendahkan diriku, maka aku infaqkan itu semua di jalanMu Ya Allah, tidak ada yang dapat aku infaqkan sebagaimana orang lain telah berinfaq, kalau sekiranya aku punya sebagaimana mereka punya akan aku infaqkan untukMu, maka yang aku punya hanya kehormatan sebagai seorang muslim, kalau engkau bisa menerimanya, maka saksikanlah kehormatan ini aku sedekahkan untuk-Mu malam ini.”

Besoknya di waktu shubuh Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam memimpin sholat berjama’ah, hadir pula Ulbah bin Zaid. Telah ia lupakan air mata yang tumpah bercucuran di tikar lusuhnya tadi malam, ia lupakan karena telah dibasuh oleh air wudhu yang baru. Akan tetapi Allah tidak pernah lupa, Allah tidak pernah menyia-nyiakan doa hamba-Nya. Kejadian di tempat yang sepi tersebut dikabarkan oleh Allah kepada Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam melalui Malaikat Jibril. Selesai sholat Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam pun berdiri kemudian Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam bertanya, "siapa yang memberikan amal yang diterima pada malam ini?"

Ternyata tidak ada yang berdiri, karena merasa tidak bersedekah tadi malam, atau merasa yakin betul sedekahnya diterima oleh Alloh Ta’ala. Ulbah bin Zaid pun juga tidak merasa bahwa dirinya telah bersedekah.

Akan tetapi Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam mendekati Ulbah dan berkata, “sungguh ya Ulbah, sedekahmu malam tadi telah diterima oleh Allah Ta’ala sebagai sedekah yang maqbul.”

Ulbah bin Zaid terkejut, karena dia sama sekali tidak mengira, cahaya kebahagiaan langsung memancar dari dirinya. “Benarkah ya Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam..benarkah sedekahku yang tadi malam yang tidak ada apa-apanya itu diterima Allah?” tanyanya penasaran seolah-olah tidak percaya.

Maka Nabi pun menyerahkan 6 ekor unta kepada Ulbah bin Ziad dan tujuh orang temannya untuk berangkat ke medan jihad, peperangan Tabuk…peperangan yang atas izin Alloh dimenangkan oleh kaum muslimin, ditandai dengan menyerahnya negara-negara boneka Romawi, dan semakin berkurangnya daerah kekuasaan kerajaan Romawi.

(m. taufik naufal/nf)


Rekomendasi untuk Anda

Berita Terbaru

JADWAL SHOLAT HARI INI

MINGGU, 23 JUNI 2024 (JAKARTA PUSAT)
IMSYAK 04:30 SUBUH 04:40 DUHA 06:24 ZUHUR 11:57
ASHAR 15:19 MAGHRIB 17:50 ISYA 19:05  

Zodiak Cancer Hari Ini

Percintaan

Pada bulan Juni 2024, hubungan percintaan Anda akan mengalami beberapa tantangan. Komunikasi yang kurang baik dapat menyebabkan konflik dan ketegangan dalam hubungan. Penting bagi Anda untuk berbicara dengan jujur dan terbuka dengan pasangan Anda untuk mengatasi masalah ini. Jaga kepercayaan dan komitmen dalam hubungan Anda.



Cancer Selengkapnya